Pendidikan Berbasis Multi Budaya

Oleh : I Gede Ida Selamet Satriya
Jurusan : Teknologi Pendidikan Undiksha
Angkatan: 2007
Mata Kuliah: FENOMENA PENDIDIKAN MULTI BUDAYA

Secara sederhana pendidikan multi budaya dapat didefinisikan sebagai “pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan. Agar definisi ini bermanfaat, maka diperlukan untuk mendefinisikan kembali apa yang dimaksud dengan “budaya” dan “kebudayaan”. Dan upaya perumusan ini, jelas tidak mudah, karena perubahan-perubahan yang begitu cepat dan dramatis dalam kebudayaan itu sendiri, khususnya karena proses globalisasi yang semakin meningkat. Di dalamnya terdapat interaksi, toleransi, dan bahkan integrasi-desintegrasi. Singkat kata, multibudaya merupakan suatu fakta yang harus diterima dan diolah secara positif demi perkembangan kebudayaan. Konsep masyarakat multi budaya diperkenalkan untuk membedakan dengan pengertian masyarakat mono kultur (mono budaya). Masyarakat mono kultur adalah masyarakat asli (archais) atau etnis yang semua anggotanya begitu baik tanpa pengecualian terikat secara paksa berdasarkan nilai-nilai yang dominan dan kuat dalam struktur masyarakatnya. Sedangkan masyarakat multi budaya adalah masyarakat yang terdiri atas etnis dan kebudayaan yang beranekaragam namun hidup berdampingan. Kehidupan komunitas mereka tidak diatur oleh sistem budaya tunggal dan tertutup, melainkan terdiri atas sistem nilai yang beragam. Postulat terbentuknya masyarakat multi kultural tidak terlepas dari migrasi penduduk baru secara besar-besaran.
Pengertian masyarakat multi budaya dan multi kulturalisme diperkenalkan pertama kali tahun 1964 di Winnipeg/Manitoba Kanada oleh sosiolog Charles Hobart pada Konferensi Dewan Kanada tentang Kristen dan Yesus. Kedua pengertian itu merujuk pada suatu fenomena migrasi multietnis dan masyarakat dengan lingkup ruang yang besar. Meskipun konsep masyarakat multi budaya masih problematik, secara umum masyarakat multi budaya dinyatakan sebagai sebuah kumpulan beraneka ragam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang eksis satu sama lain di atas suatu wilayah. Misalnya Hoffman-Nowotny menekankan dalam suatu masyarakat multi budaya terdapat dua atau lebih kelompok masyarakat yang terpisah dari kelompok mayoritas. Sekalipun demikian, diantara mereka lahir kesadaran akan perasaan kebersamaan dan identitas menyeluruh kehidupan bersama untuk membentuk perasaan bersama akan ketentraman dan keamanan.
Hasil penelitian mengenai pendidikan multi budaya dengan model pembelajaran kooparatif umumnya menunjukkan temuan yang positif. Tinjauan yang dilakukan oleh Robert Slavin (1989) terhadap 68 penelitian menunjukkan 72% siswa memiliki hasil belajar yang tinggi, mempercepat pembelajaran, meningkatkan daya ingat, membentuk sikap positif terhadap pembelajaran itu sendiri, dan belajarpun menjadi sangat menyenangkan bagi peserta didik. Menurutnya, tingginya hasil tersebut dimungkinkan karena adanya atmosfir atau iklim yang saling mendorong, saling ketergantungan positif, dan tanggung jawab individu yang tinggi untuk sukses dalam kelompok. Davidson (1985) sebelumnya juga menemukan hal yang hampir sama, khususnya dalam pembelajaran matematika, Kohlberg (1995) menemukan dampak posisif dalam perkembangan moral. Namun Woolfolk dan Nicolish (1984) menyarankan sebaiknya pembelajaran tersebut digunakan untuk tujuan yang lebih kompleks. Sementara Cross (1991) menyatakan sebagai cara pembelajaran yang sangat berguna dalam membangun sikap rasial (keberagaman) yang positif di kalangan generasi muda. pendidikan multi budaya, lintas budaya yang bertujuan mengajarkan tentang banyak kelompok budaya atau sosial dengan segala keunikannya, maka sudah sepantasnya pendidikan budaya mulai digalakkan kembali. Banyak hal yang didapat pada saat kita mempelajari kesenian atau budaya, diantaranya pada saat mempelajari budaya secara tidak sadar ia merasakan pengalaman budaya dari kelompok tersebut. Pengalaman budaya tersebut dirasakan melalui mitos, simbol, keyakinan, harapan masyarakat bahkan ketakutan juga dirasakan.
Dalam suara yang serempak beberapa cendekiawan atau pengamat berpendapat bahwa di satu sisi multibudaya menjadi sumber perekat keragaman etnis, tetapi secara bersamaan keberagaman ini juga merupakan potensi konflik yang sewaktu-waktu manifest saat semangat primordialisme tidak mampu dikelola dan dikendalikan secara bijaksana. Dalam lintasan sejarahnya, konflik yang ditimbulkan karena kondisi faktual multi budaya selalu beragam antar satu daerah dengan daerah lain dan dapat merembes kedalam proses politik Indonesia(contoh pilkada dibeberapa daerah). Akan tetapi, bersamaan dengan terjadinya kerusuhan di berbagai daerah di nusantara, tingkat migrasi ke daerah yang relatif aman menjadi semakin tinggi, sehingga sangat beralasan bila fenomena ini perlu diantisipasi secara positif. Pada titik inilah diperlukan strategi pemberdayaan masyarakat dalam dinamika multikultural.

About these ads

Posted on September 4, 2011, in Kuliah_Ku. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: