Kebudayaan Global

Oleh : I Gede Ida Selamet Satriya
Jurusan : Teknologi Pendidikan Undiksha
Angkatan: 2007
Mata Kuliah: FENOMENA PENDIDIKAN MULTI BUDAYA

Globalisasi adalah proses kebudayaan yang ditandai dengan adanya kecendrungan wilayah-wilayah di dunia baik geografis maupun fisik, menjadi semakin sempit, sehingga intensitas interaksi/ dialog format sosial, budaya, ekonomi, dan politik semakin intensif. (Nugroho, 2001; Rachbini, 2001; Thompson, 2001). Hal itu tidak bisa dilepaskan dari adanya kemajuan teknologi trasportasi dan media komonikasi kebudayaan sehingga arus manusia, citra, komoditas, uang, imformasi, dan ide termasuk di dalamnya teknologi sangat deras mengalir dari pusat ke pinggiran atau dari negara maju (Lull, 1998). Sehubungan dengan hal itu ada yang menyatakan bahwa fenomena itu akan mengakibatkan suatu integrasi semua sistem-sistem kecil menjadi satu, yakni global atau kehidupan global.
Secara subastansial dalam setiap budaya ada dua kekuatan, yakni kekuatan statis dan dinamis, kekuatan untuk perubahan, dan untuk pelestarian, atau tradisional dan inovasi. Kedua kekuatan budaya tersebut akan selalu mewarnai dalam proses dialog budaya dan menentukan bagi terjadinya perubahan dan kebertahanan suatu unsur wujud budaya dalam suatu masyarakat. Kesadaran seperti itu sangat penting tumbuh dan berkembang pada diri setiap insan budaya, sehingga kedepan kekhawatiran akan kehilangan jati diri maupun keterasingan budaya pada suatu masyarakat tidak terjadi. Pentingnya pandangan semacam itu juga terkaitan dengan perkembangan pemikiran teori-teori sosial budaya belakangan ini yang dikenal dengan teori kritis/ postmodernisme. Artinya globalisme merupakan sebuah tatanan dunia baru dimana informasi antar negara berlangsung dalam jaring-jaring kekuasaan yang horisontal/ demokratis, baik negara maju dan terbelakang sama-sama menyadari saling butuh informasi. Tapi apabila globalisme dilihat sebagai tatanan konsensus, maka globalisme itu kontradiksi besar dengan postmodernisme. Dalam konteks ini globalisme dilihat sebagai sebuah tatanan keesatuan konsensus dari kacamata semata-mata ekonomis dan politis, maka problematika modernisme dengan gaya-gaya kolonisasi pasarnya terus bergerak, sebab informasi dengan sendirinya akan terkonsentrasi dan tergenggam di dalam satu kekuasaan besar. Berarti proses informasi akan berjalan secara vertical dan represif.
Proses sejarah dominasi pada dasarnya dapat dibagi kedalam tiga periode formasi sosial yaitu:
 fase pertama adalah feriode kolonialisme yakni fase perkembangan kapitalisme di Eropa yang mengharuskan ekspansi secara fisik untuk memastikan perolehan bahan baku mentah, yang dikenal dengan kolonialisme.
 Fase kedua dikenal sebagai era pembangunan atau era developmentalisme. Periode ini ditandai dengan masa kemerdekaan negara Dunia Ketiga secara fisik, tetapi tetap terjajah secra teori dan ideologi, adanya dominasi negara-negara bekas penjajah terhadap bekas koloninya melalui kontrol terhadap perubahan sosial.
 Fase ketiga terjadi menjelang abad 21 ditandai dengan liberalisasi sebagai bidang yang dipaksakan melalui struktural Adjustment Program oleh lembaga pinansial global, dengan disepakati oleh rezim GATT dan perdagangan bebas, suatu organiasi global yang dikenal dengan WTO (word trade organization).

Posted on September 4, 2011, in Kuliah_Ku. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: