Manusia mahluk membudaya

Oleh : I Gede Ida Selamet Satriya
Jurusan : Teknologi Pendidikan Undiksha
Angkatan: 2007
Mata Kuliah: FENOMENA PENDIDIKAN MULTI BUDAYA

Kebudayaan merupakan fenomena universal. Setiap masyarakat-bangsa di dunia memiliki kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda antara masyarakat-bangsa yang satu dengan masyarakat-bangsa yang lainnya. Fenomena tersebut jelas menampakan keberadaan manusia sebagai cultural being, mahluk budaya. Keberadaan manusia sebagai mahluk budaya merupakan suatu fakta historis. Fakta historis ini sekaligus juga mengandaikan keberadaan manusia sebagai salah satu dari mahluk-mahluk lainnya dan keistimewaan manusia yang secara hakiki membedakannya dengan mahluk lain, yaitu manusia membudaya, atau sebagai pencipta kebudayaan. Dan sebagai ciptaan manusia, kebudayaan adalah ekspresi eksitensi manusia di dunia. Namun manusia dan kebudayaan, berhubungan secara dialektis. Artinya ada interaksi kreatif antara manusia dengan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia namun manusia sendiri adalah produk kebudayaan. Dialektika fundanmental tersebut terdiri dari tiga tahap, yaitu: ekternalisasi, adalah proses pencurahan diri manusia secara terus menerus kedalam dunia melalui aktivitas fisik dan mentalnya dalam rangka penciptaan kebudayaan. Objektivasi, adalah tahap dimana aktivitas manusia menghasilkan suatu realitas objektif yang berada diluar diri manusia. Jadi manusia sudah menghasilkan produk-produk tertentu, baik dalam berbagai wujud budayanya. Internalisasi ialah tahap dimana realitas objektif hasil ciptaan manusia kembali diserap oleh manusia. Dengan kata lain, struktur dunia objektif, hasil karya, ditrasformasikan kembali kestruktur kesadaran subjektifnya. Jadi realitas eksternal kembali menjadi realitas internal (Maran, 2000).
Hal ini sejalan dengan definisi kebudayaan sebagai a design for living, suatu desain kehidupan, dan sebagai a set of control mechanisms. Melalui hal itulah manusia menghadaptasikan diri dengan lingkungannya. Dalam proses adaptasinya manusia dipengaruhi oleh factor internal (motivasi, pengalaman, pengetahuan/pendidikan, persepsi, interprestasi, katagorisasi), factor eksternal (impormasi, nilai/norma sosial-budaya, kondisi situasi lingkungan biogeofisik-sosbud), Desain kehidupan itu diperoleh manusia melalui proses belajar. Oleh karena itu perkembangan manusia sangat tergantung pda proses sosialisasi dan enkulturasi (Maran,2000;Horton dan Hunt, 1991). Sehubungan dengan hal itulah Ruth Benedict menyatakan bahwa kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkahlaku yang bisa dipelajari. Disini terlihat betapa pentingnya peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia. Kepribadian manusia yang sangat mempengaruhi action manusia.

Posted on September 4, 2011, in Kuliah_Ku. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: